Biografi : Sejarah Musashi Samurai Legendaris

Senin, 18 April 2011  | 

Add a Comment  | 
Link to this Post  |  
Anda berada dalam Keadaan yang mengharuskan Memilih satu Diantara dua hal yang anda cintai dalam kehidupan yang hanya sekali ini? Pilihan sulit yang akan menentukan jalan hidup anda selanjutnya. Hal ini dialami oleh Musashi seorang seniman pedang samurai legendaris dari Jepang, setidaknya begitu dalam novel "Musashi" yang ditulis oleh Eiji Yoshikawa. Novel berjudul "Musashi" bercerita tentang perjalanan hidup seorang maestro pedang bernama Musashi. Musashi bukanlah tokoh fiktif, Musashi adalah tokoh yang benar-benar pernah hidup di Jepang. Menurut kata pengantar di bukunya, Musashi hidup antara
tahun 1584-1645. Takezo, veteran Perang Sekigahara (1600), menjelma menjadi Musashi setelah mengurung diri (belajar) di sebuah ruangan tua yang penuh dengan buku, selama 3 tahun dibawah 'bimbingan' seorang pendeta Zen bernama Takuan. Demi untuk mencapai cita-citanya yaitu kesempurnaan 'Jalan Pedang', Musashi mulai berkelana untuk mematangkan diri dan menguji ilmu pedangnya dengan cara menantang perguruan- perguruan samurai yang paling terkenal di Jepang saat itu.


'Jalan Pedang' adalah pilihan hidup yang mendedikasikan diri pada kesempurnaan berpedang, penyatuan jiwa dalam pedang yg akhinya bermuara
pada penyatuan diri dengan alam. Dengan tinggi badan sekitar 175 cm (diatas rata2 orang Jepang pada masa itu), Musashi dengan mudah mengalahkan lawan- lawannya. Mengalahkan lawan bagi sosok Musashi adalah sangat mudah, dengan rata-rata hanya sekali tebas semua lawan2nya juntai tak berdaya. Tantangan terberatnya adalah justru mengalahkan dirinya sendiri yang liar, kasar, buas dan sering cepat merasa puas. Dari berbagai pertarungan dengan tokoh2 samurai kelas satu, Musashi semakin mengenal kelemahan dan kerapuhan dirinya. Semakin tahu
kelemahannya, semakin membara semangatnya untuk mencapai kesempurnaan. Musashi berlatih dengan sangat keras, bahkan kadang-kadang orang lain mengira dia sedang menyiksa diriya. Bukan hanya latihan fisik saja, jiwanya pun dilatih untuk menjadi lebih disiplin. Bagi Musashi duel bukan hanya sekedar sabetan sebilah pedang belaka, bagi dia duel merupakan ritual jiwa ksatria yg suci (semangat busido?). Dia berlatih dengan keras karena dia sadar bahwa dia bukanlah seorang genius, dia hanyalah seorang 'biasa'. Seorang 'biasa' dengan cita-cita luar biasa. Di tengah pencarian jati dirinya di 'Jalan Pedang', Musashi juga dihadapkan dengan sosok Otsu. Otsu adalah wanita dengan karakter yang sangat mempesona. Otsu begitu mencintai Musashi dengan seluruh hatinya. Hubungan antara Musashi dan Otsu juga menjadi daya tarik tersendiri bagi cerita ini. Hubungan yang rumit, penuh dengan kesedihan tapi bukan hubungan asmara yang cengeng. Mungkin boleh dibilang hubungan percintaan antara Otsu dan Musashi adalah cinta platonik. Aneh memang hubungan asmara mereka. Otsu sadar bahwa kecil kemungkinan bagi dia untuk dapat mengikat hati Musashi yang sudah mengabdikan dirinya pada 'Jalan Pedang'. Otsu rela menderita demi Musashi, sama seperti halnya Musashi rela menderita demi 'Jalan Pedang'. Semakin besar niat Musashi untuk mencapai kesempurnaan kehidupan 'Jalan Pedang', semakin besar pula cinta Otsu pada Musashi. Cinta Otsu pada Musashi adalah salah satu motivasi terbesar bagi Musashi dalam mencapai kesempurnaan 'Jalan Pedang'. Bahkan Musashi pernah berkata bahwa dia tidak akan mengecewakan Otsu dalam hal itu. Otsu juga demikian, dia berkata bawha dia tidak akan mencintai Musashi sedalam itu, kalau Musashi tidak mencintai pedangnya sepenuh hati. Pada satu saat ketika Musahi jenuh dalam pencariannya dan sudah mau meninggalkan 'Jalan Pedang' dan ingin memilih Otsu, dia (Otsu) sendiri yang malah mendorong Musashi supaya meneruskan pencarian jati dirinya. Paradoks cinta segitiga. Kadang2 saya merasa kasihan pada Otsu, bahkan sempat terlintas di benak saya bahwa Otsu adalah wanita bodoh. Karakter lain yang menonjol dalam cerita ini adalah Sasaki Kojiro. Seorang samurai yang sangat berbakat yang tujuan hidupnya adalah berduel dengan Musashi semata. Sasaki Kojiro lebih muda, lebih tinggi secara fisik dan konon lebih genius (lebih berbakat) dalam berpedang daripada Musashi. Dalam cerita ini digambarkan Sasaki Kojiro berwatak agak licik dan kejam. Meskipun berkarakter seperti itu, tapi kita tidak bisa menarik garis tegas bahwa Sasaki Kojiro adalah tokoh jahat dalam novel ini. Duel antara Musashi dengan Sasaki Kojiro menjadi klimaks novel ini. Kisah duel klasik antara keahlian berpedang karena bakat alam (Sasaki Kojiro) dengan kesempurnaan berpedang akibat tempaan kerja keras (Musashi). Sasaki Kojiro diakui Musashi adalah lawan duel yang paling menakutkan yang pernah ditemuinya. Cerita duel sepadan dua jagoan ini menutup kisah pencarian jiwa Musashi. Eiji Yoshikawa dengan runut dan sabar menggambarkan perkembangan karakter Musashi mulai dari hanya seorang pendekar jalanan yang hanya mengandalkan kekuatan dan kecepatan fisik belaka menjadi seorang seniman pedang dengan jiwa yang halus. Dalam kehidupan sebenarnya, Musashi juga adalah seorang pelukis dan penulis. Dia menulis sebuah buku yg berjudul "Gorin no Sho" (diterjemahkan ke dalam bahasa inggris dengan judul "The Books of Five Rings"). Pada Novel ini tidak ada jurus2 sakti seperti yang sering kita temui pada buku2 cerita silat ala Chin Yung atau pun Khu Lung. Tidak ada kitab2 sakti 'ces-pleng' yang ditemukan di gua. Mungkin para penggemar cersil akan sedikit kecewa karena tidak adanya unsur2 itu. Mungkin para wanita juga akan terkecoh dengan gambar sampul depannya yang menggambarkan sosok kereng Musashi yang sedang memegang dua bilah pedang. Karena konotasi pedang (pada umumnya) adalah darah dan kekerasan, sesuatu yang (pada umumnya) dihindari oleh wanita. Tidak ada semua itu, yang ada hanyalah cerita menarik tentang pencarian jati diri seorang Musashi yang kebetulan memilih 'Jalan Pedang' dalam hidupnya. Cerita tentang pengorbanan, semangat hidup, kehormatan dan
dedikasi. Acungan jempol harus diberikan pada tim penerjemah novel 'Musashi'. Menurut saya, ini novel terjemahan yang bagus. Saya tidak tahu alasannya kenapa harus ada tim dalam menerjemahkannya (versi indonesia adalah terjemahan dari versi inggrisnya), mungkin karena bukunya terlalu tebal, sehingga tidak ada yg kuat melakukannya sendirian(?) Sekarang Gramedia menerbitkan dalam bentuk hardcover yang sangat tebal, kalau tidak salah sekitar 900+ halaman. Saya baca yang versi 7 buku terpisah. Lebih enak bagi saya dalam membacanya karena bisa dibaca dimana saja dan tidak ada 'hambatan psikologis' malas baca karena terlalu tebal
1. Jangan pernah melanggar aturan dan norma tradisi
2. Jangan pernah mengharapkan saat- saat santai
3. Jangan pernah menyesali apa yang sudah terjadi
4. Jangan pernah iri dengan keberuntungan orang lain, atau karena kesialan kita
5. Jangan pernah menyesali perpisahan dengan apapun dan kapanpun
6. Jangan pernah menyalahkan orang lain dan juga diri sendiri
7. Jangan pernah mengeluh tentang orang lain maupun diri sendiri
8. Jangan pernah mendekati cinta
9. Jangan pernah mempunyai kesukaan ataupun ketidaksukaan terhadap sesuatu
10. Jangan pernah mengeluh tentang tempat tinggal, apapun kondisinya.
11. Jangan pernah menginginkan makanan enak untuk diri sendiri
12. Jangan pernah percaya/memiliki barang antik/jimat
13. Jangan pernah menyesali kebaikan kita kepada orang lain
14. Jangan pernah mengimpikan rumah idaman yang nyaman di masa tua
15. Jangan pernah terlalu memikirkan kepentingan pribadi.
16. Jangan pernah meninggalkan jalan Beladiri
17. Lebih baik kehilangan nyawa dari pada kehilangan harga diri dan nama baik.
Judul : Musashi
Pengarang : Hidetsugu “ Eiji” Yoshikawa
Alih bahasa : Tim KOMPAS
Terbitan : Gramedia Pustaka
Utama, Cetakan keempat:
September 2005
Volume : 1248 hlm.; 23 cm.

Artikel Menarik Lainya

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar kalian, ini adalah blog DOFOLLOW jangan melakukan spam atau kata-kata kotor